Kerajaan Singhasari




Menurut cerita di kitab Pararaton dan Nagarakrtagama, Raja pertama Singhasari bernama Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi yang populer dipanggil Ken Arok. 

Ken arok adalah anak seorang Brahmana bernama Gajah Para dengan Ibu bernama Ken Endok dari desa Pangkur. Ken Arok semula diangkat anak oleh Lembong yang akhirnya berprofesi sebagai pencuri / penyamun yang sangat sakti dan selalu menjadi buronan alat-alat negara. Atas bantuan seorang pendeta Lohgawe, Ken Arok mengabdi kepada seorang Akuwu ( setara Bupati ) yang bernama Tunggul Ametung. 

Namun Akuwu itu kemudian dibunuhnya dan jandanya, Ken Dedes, dalam kondisi hamil dikawininya, yang anak itu nantinya diberi nama Anusapati.

Kemudian ia mengambil kekuasaan Tumapel dan melepaskan diri dari Kerajaan Kadiri, yang kebetulan di Kadiri ada perselisihan antara raja dan para pendeta, lalu para pendeta itu melarikan diri yang diterima baik dan dilindungi Ken Arok.

Raja Kertajaya berusaha menindak Ken Arok, tapi dalam pertempuran di Genter pada tahun 1222 Ken Arok menang dan menjadi Raja Tumapel dan Kadiri, yang ber-Ibukota di Kutaraja.

Dari Ken Dedes selain mempunyai anak tiri Anusapati, ia juga mempunyai anak yang diberi nama Mahisa Wonga Teleng. Sedangkan dari isteri lain, Ken Umang, ia mempunyai anak yang diberi nama Tohjaya.

Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh anak tirinya, Anusapati, yang menggantikannya sebagai Raja. Lalu untuk mengenang Ken Arok, dibuatkan Candi di Kagenengan ( sebelah Selatan Singhasari ) dalam bangunan suci agama Siwa dan Buddha. Sedangkan Ken Dedes yang tidak diketahui tahun meninggalnya, diperkirakan dibuatkan arca sangat indah yang diketemukan di Singosari, yaitu Arca Prajnaparamita.


Anusapati / Anusanatha yang memerintah tahun 1227-1248, dibunuh oleh Tohjaya dengan suatu muslihat, dan untuk itu Anusapati dimuliakan di Candi Kidal ( sebelah tenggara Malang ). Namun Tohjaya hanya memerintah beberapa bulan, karena aksi balas dendam dari anak Anusapati yaitu Rangga Wuni. Tohjaya melarikan diri, namun karena luka-lukanya ia meninggal dunia, dan dicandikan di Katang Lumbang.

Pada tahun 1248 Rangga Wuni naik takhta dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana, dan Raja Singhasari pertama yang memerintah bersama saudaranya, Mahisa Campaka ( anak dari Mahisa Wonga Teleng ). Mahisa Campaka diberi kekuasaan untuk ikut memerintah dengan pangkat Ratu Angabhaya bergelar Narasingamurti. Dikisahkan bahwa mereka memerintah bagai Dewa Wisnu dan Dewa Indra.

Anak Rangga Wuni, Kertanagara, di tahun 1254 dinobatkan sebagai Raja, namun ia tetap memerintah terus untuk anaknya, sampai dengan wafatnya dalam tahun 1268 di Mandaragiri, lalu dicandikan di Waleri dalam perwujudannya sebagai Siwa, dan di Candi Jayaghu ( Candi Jago ) ia diwujudkan sebagai Buddha Amoghapasa.




Dikisahkan, Candi Jago dimaksudkan sebagai penolak bala tuah keris Mpu Gandring yang dikatakan akan memakan tujuh keturunan Ken Arok. Sehingga Wisnuwardahana juga mengangkat Narasingamurti yang masih saudara namun beda bapak sebagai pendamping utama dalam menjalankan pemerintahan sehingga periode pemerintahannya disebut dengan 2 Naga Kepala Tunggal. Tujuannya adalah untuk mengakhiri jurang perpecahan antara para keturunan Ken Arok dan Kendedes. 

Pada Candi Jago terlihat pula relief-relief dengan pahatan datar, gambar orang yang mirip wayang kulit Bali saat ini, dan para kesatriyanya diikuti Punakawan ( Bujang Pelawak ).

Kertanagara, adalah Raja Singhasari yang banyak diketahui riwayatnya dan paling banyak peristiwanya, dimana sang Raja dibantu oleh 3 orang Mahamantri ( Rakryan I Hino, I Sirikan dan I Halu) dan para Menteri Pelaksana (Rakryan Apatih, Demung dan Kanuruhan), serta seorang Dharmadhyaksa Sri Kasogatan yang mengurus keagamaan ( kepala agama Buddha ) dan seorang pendeta yang mendampingi Raja, yaitu seorang Mahabrahmana dengan pangkat Sangkhadhara.

Karena ia bercita-cita meluaskan wilayah kekuasaan, maka ia menyingkirkan tokoh-tokoh yang dianggapnya menentangnya, salah satunya adalah Patihnya sendiri bernama Arema / Raganatha, dan menjadikannya sebagai Adhyaksa di Tumapel yang kemudian diangkatlah Kebo Tengah / Aragani sebagai Patihnya.
Ia mengangkat Banak Wide sebagai Bupati Sungeneb ( Sumenep - Madura ) bergelar Arya Wiraraja.

Pada tahun 1275 Kertanagara mengirim pasukan ke Sumatera Tengah yang terkenal dengan misi Pamalayu dan berlangsung hingga tahun 1292, dimana saat pasukannya kembali dari Sumatera, Kertanagara sudah wafat.
Prasasti pada alas kaki Arca Amoghapasa yang diketemukan di Sungai Langsat ( hulu sungai Batanghari dekat Sijunjung ), menjelaskan bahwa di tahun 1286 atas perintah Maharajadhiraja Sri Kertanagara Wikrama Dharmottunggadewa, sebuah Arca Amoghapasa beserta 13 Arca lainnya dipindahkan dari Bhumi Jawa ke Suwarnabhumi. Atas hadiah ini, rakyat Malayu sangat senang terutama sang Raja, yaitu Srimat Tribuwanaraja Maulawarmmadewa.


Pada tahun 1284 kartanegara berhasil menaklukkan Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun ( Maluku ), sebagaimana diketahui dari Nagarakertagama.
Selain itu, ia bersekutu dengan Campa yang diperkuat dengan perkawinan adiknya dengan Raja Campa, sesuai Prasasti Po Sah ( di Hindia Belakang ) yang menuliskan bahwa Raja Jaya Simphawarman III mempunyai dua permaisuri yang salah satunya dari Jawa  (mungkin saudara Kertanagara).

Sejak tahun 1271 di Kadiri ada Raja bawahan, yaitu Jayakatwang. Kemudian Jayakatwang bersekutu dengan Wiraraja dari Sungeneb ( Sumenep ) untuk memata-matai Kertanagara. 

Sebelum kembalinya pasukan Singhasari dari Sumatra dan adanya insiden dengan Kubilai Khan dari Tiongkok, atas petunjuk dan nasehat Wiraraja dalam tahun 1292 Jayakatwang melancarkan serbuan ke Singhasari melalui Utara untuk membuat gaduh dan dari Selatan merupakan pasukan induk.




Kertanagara yang mengira serangan hanya dari Utara, mengutus Raden Wijaya ( anak Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka ) dan Arddharaja ( anak Jayakatwang ) untuk memimpin pasukan ke Utara. Ternyata pasukan inti penyerangan datang dari Selatan dan berhasil memasuki kota dan Karaton, dimana saat itu Kertanagara sedang minum berlebihan bersama dengan Mahawrddhamantri serta dengan para pendeta terkemuka dan pembesar lain, yang katanya sedang melalukan upacara Tantrayana, terbunuh semuanya.

Kertanagara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Shiwa dan Buddha di Sagala sebagai Jina / Wairocana bersama Sang Permaisuri Bajradewi dan di Candi Singosari sebagai Bhairawa.

Sebagaimana Prasasti tahun 1289 pada Lapik Arca Joko Dolok yang diketemukan di Surabaya, Kertanagara diketahui sebagai seorang pengikut setia agama Buddha Tantra, sehingga ia dinobatkan sebagai Jina ( Dhyani Buddha ) yang bergelar Janasiwabajra, yaitu sebagai Aksobhya, dimana arca Joko Dolok merupakan arca perwujudannya dirinya. 

Sedangkan dalam Pararaton dan berbagai Prasasti, setelah wafat dinamakan Siwabuddha, dimana dalam kitab Nagarakrtagama dikatakan Siwabuddhaloka.




Kerajaan Kadiri



Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu adalah Raja Kadiri yang muncul pertama di pentas sejarah, sesuai dengan Prasasti Sirah Keting berangka tahun 1104, Si Jayawarsa dianggap sebagai titisan Wisnu seperti halnya Airlangga.

Sri Jayawarsa digantikan Kameswara ( 1115-1130 ), bergelar Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, Lencana Kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Candrakapala. 
Pada jamannya, Mpu Dharmaja menggubah Kitab Samaradahana - pujian yang mengatakan Raja mereka adalah titisan Dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, dengan permaisurinya yang sangat cantik bernama Sri Kirana dari Jenggala. Dalam kesusasteraan Jawa dikenal dalam cerita Panji.



Pengganti Kameswara yaitu Jayabhaya ( 1130-1160 ), bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa lencan yang dikenakannya adalah Narasingha, nama Jayabhaya dikekalkan dalam Kitab Bharatayuddha ( sebuah Kakawin yang digubah Mpu Sedah pada tahun 1157 dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh yang terkenal dengan Kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya ).
Dewasa ini, nama Jayabaya di tanah Jawa juga sering dipakai dalam hal-hal yang berhubungan dengan eskatologi.
Jayabaya dikenal sebagai "peramal" Indonesia masa depan, meski hal tersebut hanyalah karangan Ranggawarsita saja.


Pengganti Jayabhaya, selanjutnya yaitu Sarwweswara ( 1160-1170 ), lalu Aryyeswara ( 1170-1180 ) yang memakai Ganesha sebagai lencana kerajaan, kemudian digantikan oleh Gandra yang bergelar Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayottunggadewanama Sri Gandra. Dari Prasasti disebutkan bahwa Kerajaan Kadiri telah memiliki armada laut.

Tahun 1190-1200 diperintah dilanjutkan oleh Sirngga, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa dengan lencana Kerajaannya Cangkha / kerang bersayap di atas Bulan Sabit.

Raja terakhir Kadiri yaitu Kertajaya ( 1200-1222 ), berlencana Garudamukha. Kertajaya dikenal sebagai raja yang kejam, bahkan meminta rakyat untuk menyembahnya. Ini ditentang oleh para Brahmana. 
Sementara itu, di Tumapel ( wilayah bawahan Kediri ) terjadi gejolak politik. Ken Arok membunuh penguasa Tumapel Tunggul Ametung dan mendirikan Kerajaan Singhasari. Ken Arok kemudian memanfaatkan situasi politik di Kediri, ia beraliansi dengan Brahmana, dan lalu menghancurkan Kediri. Dengan meninggalnya Kertajaya, Kediri menjadi wilayah Kerajaan Singhasari.

Perkembangan kesusasteraan di jaman Kediri sangat bagus, yang selain kitab-kitab tersebut diatas, beberapa hasil lainnya adalah:

* Kitab Lubdhaka dan Wrtasancaya karangan Mpu Tanakung;
* Kitab Krisnayana karangan Mpu Triguna;
* Kitab Sumanasantaka karangan Mpu Monaguna.

Terdapat pula beberapa keterangan dalam catatan sejarah Cina, seperti di Kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun Chou K’u-fei pada tahun 1178 dan di Kitab Chu-fan-chi oleh Chau-Ju-Kua pada tahun 1225, yang menyebutkan:

 - Orang Kadiri memakai kain sampai dibawah lutut, dengan rambut diurai;
 - Rumah-rumah bersih dan rapi, lantai berubin hijau dan kuning;
 - Pertanian, peternakan, serta perdagangan maju dan kerajaan penuh perhatian;
 - Tidak ada hukuman badan, yang bersalah di denda emas;
 - Pencuri dan perampok yang tertangkap dibunuh;
 - Alat pembayaran adalah mata uang dari emas 
 - Orang sakit bukan makan obat tapi mohon sembuh para Dewa dan Buddha;
 - Raja berpakaian sutera, sepatu kulit, emas-emasan, rambut disanggul.
 - Raja keluar naik gajah atau kereta, diiringi 500-700 prajurit dan rakyat jongkok;
 - Raja dibantu 4 menteri, gaji dari menerima hasil bumi / lainnya sewaktu-waktu;
 - Selain agama Buddha ada agama Hindu;

Kerajaan Medang - Kahuripan




Panggung sejarah pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, dengan Rajanya Mpu Sindok ( 929-947 ).
Mpu Sindok adalah pendiri kerajaan sekaligus pendiri Dinasti Isyana, yang menurunkan Raja-Raja Medang.
Kitab Suci Budha ( Sang Hyang Kamahayanikan ) yang menguraikan tentang ajaran dan ibadah agama Budha Tantrayana dapat dihimpun selama Mpu Sindok berkuasa, walaupun ia beragama Hindu.


Mpu Sindok, yang merupakan raja terakhir dari Dinasti Sanjaya, berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram ke Jawa Timur diduga karena letusan Gunung Merapi.
Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan Medang ( meski beberapa literatur masih menyebut Mataram ).

Mpu Sindok memiliki dua istri, salah satunya bernama Sri Parameswari Dyah Kbi, yang mungkin adalah puteri Dyah Wawa, raja terakhir Mataram di Jawa Tengah. Jadi, Mpu Sindok menjadi suksesor Kerajaan Mataram karena pernikahannya. 
Ia tidak menggunakan gelar Raja ( Sri Maharaja Rake Hino Sri Icana Wikramadharmottunggadewa ), tetapi menyebut dirinya Rakryan Sri Mahamantri Mpu Sindok Sang Srisanottunggadewawijaya ( penguasa tertinggi setelah raja ). 

Sebuah prasasti yang kini disimpan di Museum Calcutta (India), menyebutkan silsilah Mpu Sindok hingga Airlangga.



Penggantinya adalah putrinya Sri Icanatunggawijaya yang bersuamikan Raja Lokapola. Lalu dilanjutkan oleh Makutawangsawardhana yang digambarkan sebagai Matahari dalam keluarga Istana. Selanjutnya ia mempunyai anak perempuan bernama Mahendradatta atau Gunapriyadharmapatni yang bersuamikan Raja Udayana dari keluarga Warmadewa yang memerintah di Bali.

Raja terakhir Medang adalah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa ( 991-1016 ). Dharmawangsa dikenal sebagai patron penerjemahan Kitab Mahabharata ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Pada masa ini pula, Carita Parahyangan ditulis dalam Bahasa Sunda, yang menceritakan kerajaan Sunda dan Galuh. 
Dharmawangsa mengadakan sejumlah penaklukan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat. Tahun 990, Dharmawangsa mengadakan serangan ke Sriwijaya dan mencoba merebut Palembang, namun gagal.

Pada tahun 1006, Sriwijaya melakukan pembalasan, yakni menyerang dan menghancurkan istana Watugaluh. Dharmawangsa terbunuh, dan beberapa pemberontakan mengikutinya dalam beberapa tahun ke depan. Airlangga, putera Mahendradatta yang masih berusia 16 tahun, berhasil melarikan diri dan kelak akan menjadi Raja pertama Kerajaan Kahuripan, suksesor Mataram Kuno dan Medang.

Pada Prasasti Calcutta juga ceritakan bahwa, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh Raja Wurawari, diduga bahwa yang berdiri di belakangnya sebenarnya adalah Sriwijaya. 
Tapi ada yang lolos dari kehancuran tersebut, yaitu Airlangga, putra Mahendradatta Raja Bali, beserta Narottama bersembunyi di Wonogiri ( dengan para pertapa ), yang setelah dewasa kawin dengan sepupunya, anak dari Dharmawangsa.

Sekitar tahun 1010 Mahendradatta meninggal, Udayana berjalan tanpa adanya Raja hingga tahun 1022, karena anak sulungnya yang bernama Airlangga menggantikan Dharmawangsa untuk memerintah di Jawa Timur, maka anak bungsunya bernama Anak Wungsu akhirnya memerintah di Bali, dengan nama Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Di tahun 1019 Airlangga dinobatkan oleh para Pendeta Buddha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. 
Ia memulai perintahan dengan daerah sangat kecil, karena saat Kerajaan Dharmawangsa hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.



Pada tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah-daerah yang pernah diduduki saat pemerintahan Dharmawangsa. Hal ini kemungkina terjadi karena ada hubungannya dengan kelemahan pada Kerajaan Sriwijaya pada saat itu, yang baru saja diserang Kerajaan Colamandala ( 1023 dan 1030 ) dari India. 

Raja-Raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa ( 1028-1029 ), Wijaya dari Wengker ( 1030 ), Adhamapanuda ( 1031 ), seorang Raja Perempuan seperti Raksasa ( 1032 ), Wurawari ( 1032 ) dan Raja Wengker ( 1035 ) yang sempat muncul lagi.

Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga ( dibantu oleh Narottama / Rakryan Kanuruhan dan Niti / Rakryan Kuningan) yang pada tahun 1031 beribukota di Wwatan Mas, kemudian dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, diikuti dengan tumbuhnya Seni Sastra, antara lain: Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa tahun 1030, yang berisi cerita tentag perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para Dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang Kayangan ( kiasan hasil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada Raja ). 
Ini juga pertama kali keterangan Wayang dijumpai, walau sebetulnya diperkirakan sudah ada sebelum Airlangga.

Anak perempuan Airlangga yaitu Sanggramawijaya, ditetapkan sebagai Mahamantri I Hino ( yang berkedudukan tertinggi setelah Raja ), setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, Sanggramawijaya menolak dan memilih sebagai pertapa. 
Yang oleh Airlangga didirikanlah sebuah pertapaan di daerah Pucangan ( gunung Penanggungan ), dengan gelar Kili Suci.

Kepergian Putri Mahkotanya, dan untuk mencegah perebutan takhta, menyebabkan Airlangga membagi dua kerajaan kepada kedua anak laki-lakinya, dengan pertolongan seorang Brahmana bernama Mpu Bharada yang sakti. 
Kedua kerajaan itu adalah: Janggala beribukota Kahuripan dan Panjalu (Kadiri) beribukota Daha, dimana Gunung Kawi ke Utara dan Selatan menjadi batasnya.



Setelah membagi dua kerajaannya, Airlangga mundur diri dan menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu, kemudian meninggal pada tahun 1049 dan dimakamkan di Tirtha, di lereng Timur Gunung Penanggungan dan terkenal sebagai Candi Belahan. 

Tetapi kurang lebih setengah abad sejak Airlangga mundur dari pemerintahan, tidak ada informasi tentang dua kerajaan yang dibentuknya itu. Lalu setelah itu hanya Kadiri yang mengisi sejarah, sedangkan Janggala tidak ada peninggalan apapun yang menjelaskannya. 

Airlangga semasa hidupnya dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, dengan lancana Kerajaan Garudamukha yang pada sebuah arca indah disimpan di Musium Mojokerto mewujudkan Airlangga sebagai Wisnu yang menaiki garuda.


Dinasti Sanjaya dan Cailendra


             
Di desa Dinoyo ( Barat Laut Malang ) diketemukan sebuah Prasasti berangka tahun 760, dengan huruf Kawi dan berbahasa Sansekerta, yang menceritakan bahwa pada abad VIII terdapat Kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan ( sekarang desa Kejuron ) dengan Raja bernama Dewasimha dan berputra Limwa ( saat menjadi pengganti ayahnya bergelar Gajayana ), yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya dan diresmikan pada tahun 760. Upacara peresmian dilakukan oleh para Pendeta Ahli Weda ( Agama Siwa ).

Bangunan kuno yang saat ini masih ada di desa Kejuron adalah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat Lingga ( mungkin lambang Dewa Agastya ).




SANJAYAWAMSA dan CAILENDRAWAMSA



Kecuali di desa Canggal, hingga pertengahan abad IX catatan mengenai keturunan Sanjaya tidak ada lagi ditemukan pada Prasasti lainnya, kecuali Prasasti-Prasasti dari keluarga Raja lain, yaitu Cailendrawamsa / Sailendrawamsa, antara lain pada Prasasti Kalasan.

Dalam Prasasti Kalasan, yang berhuruf Pra-Nagari, berbahasa Sanskerta dan berangka tahun 778, disebutkan bahwa Maharaja Tejahpurnapana Panangkarana / Kariyana Panangkarana telah mendirikan sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Kerajaan. Selain itu dijelaskan bahwa antara keluarga Sanjaya dan keluarga Cailendra terjadi kerjasama yang erat dalam hal-hal tertentu.


Candi itu bernama Kalasan, di desa Kalasan (sebelah Timur Yogyakarta), kondisi bagian dalam Candi Kalasan ini sekarang kosong, namun terlihat singgasana serta biliknya dimana arca Dewi Tara dahulu pernah ditempatkan disini dengan ukuran yang besar sekali, dan diperkirakan terbuat dari perunggu.



Menurut Prasasti Raja Balitung berangka tahun 907, Tejahpurna Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, pengganti Sanjaya. Kemudian dilanjutkan oleh Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalanga dan Raja Balitung / Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambhu ( Raja yang membuat Prasasti ).

Pemerintahan Sanjayawamsa berlangsung dengan wilayah kekuasaan di bagian Utara Jawa Tengah dan beragama Hindu yang memuja Siwa, terbukti dari sifat Candinya ( thn 750-850 M ), sehingga diperkirakan pemerintahan Sailendrawamsa juga berlangsung dengan wilayah kekuasaan di bagian Selatan Jawa Tengah dan beragama Buda aliran Mahayana yang juga terbukti dari Candinya. 

Kedua Wamsa ini bersatu di pertengahan abad IX, yang ditandai dengan adanya perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani ( Putri Raja dari keluarga Cailendra ).

Selain Candi Kalasan, ditemukan juga Prasasti dari Kelurak ( Prambanan ) yang berhuruf Pra-Nagari dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan tentang pembuatan Arca Manjusri ( tentang Buddha, Dharma dan Sanggha ), Rajanya bergelar Sri Sanggramadananjaya, serta bangunan untuk penempatan arca lain ( tidak jauh di sebelah utara Prambanan ) bernama Candi Siwa.

Samaratungga adalah pengganti Indra. Yang menurut Prasasti Karangtengah ( dekat Temanggung ) tahun 824 diceritakan bahwa Samaratungga membangun Candi Wenuwana / Ngawen di sebelah Barat Muntilan. Anehnya, seperti halnya Kalasan, pemberi tanah untuk bangunan Candi tersebut adalah seorang Raja keluarga Sanjaya, yaitu Rakarayan Patapan Mpu Palar atau Rakai Garung.


Samaratungga kemudian digantikan oleh putrinya, Pramodawardhani ( yang kemudian bergelar Sri Kahulunnan ) yang kawin dengan Rakai Pikatan, pengganti Rakai Garung. Diketahui bahwa, Pramodhawardhani telah mendirikan bangunan Suci Agama Buddha ( misalnya kelompok Candi Plaosan, pemeliharaan Kamulan / Candi Borobudur di Bhumisambhara - yang diperkirakan dibangun oleh Samaratungga ), sedangkan Rakai Pikatan diketahui telah mendirikan bangunan Suci Agama Hindu ( misalnya kelompok Candi Loro Jonggrang ).

Sedangkan Balaputra, adik laki-laki dari Pramodawardhani, pada tahun 856 telah gagal merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan ( Balaputra merasa seharusnya ia adalah pewaris tahta ), karena kekalahannya ia melarikan diri ke Suwarnadwipa dan berhasil menaiki takhta Sriwijaya, dengan agamanya Buddha.

                                                  

SANJAYAWAMSA


Setelah berhasil mengalahkan kekuasaan Keluarga Sailendra, pada Prasasti tahun 856 dikatakan bahwa Rakai Pikatan sebelum turun tahta telah mampu menggempur Balaputra yang bertahan di bukit Ratu Boko. Pengganti Rakai Pikatan adalah Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi ( tahun 856-886 ) dengan sebutan Sri Maharaja ( gelar ) Abhiseka ( penobatan raja ) Sri Sajjanotsawatungga, yang menunjukkan bahwa ia penguasa satu-satunya dan juga berdarah keturunan Sailendra.

Rakyat pada masa Pemerintahan Rakai Kayuwangi menghadapi kesulitan, karena selama 3/4 abad Wamsa Sailendra banyak mendirikan bangunan-bangunan suci yang megah dan mewah demi kebesaran raja, yang mengakibatkan lemahnya tenaga rakyat Mataram dan menekan hasil pertanian.

Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang ( tahun 886-898 ), lalu Raja Balitung / Rakai Watukura yang bergelar Sri Iswarakesawotsawatungga ( tahun 898-910 ), dan merupakan Raja Pertama yang memerintah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa Kanjuruhan ( melalui Prasasti Dinoyo ) telah ditaklukkan, karena sebutan bahwa Rakryan Kanjuruhan sebagai salah satu jabatan tinggi langsung dibawah raja.





Setelah Raja Balitung, kemudian digantikan oleh Raja Daksa, yang sebelumnya menjabat sebagai Rakryan Mahamantri I Hino ( tahun 910-919 ), kemudian digantikan oleh Raja Tulodong dengan gelar Sri Sajanasanmatanuragatuggadewa ( tahun 919-924 ), selanjutnya digantikan oleh Raja Wawa yang bergelar Sri Wijayalokanamottungga ( tahun 924-929 ), dan kemudian seorang Raja dari keluarga lain, yaitu Sindok dari Isanawamca yang mana pusat pemerintahan berpindah ke Jawa Timur, tanpa diketahui secara jelas. Namun para ahli mengatakan kemungkinan karena meletusnya Gunung Merapi.





Kerajaan Mataram Kuno




Sekitar tahun 618-906 di Jawa Tengah terdapat sebuah Kerajaan bernama Kaling / Holing. Rakyatnya hidup dengan tenteram dan makmur. Sejak tahun 674 diperintah oleh seorang Raja perempuan bernama Simo, yang memerintah berdasarkan kejujuran mutlak, sangat keras dan setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang tidak boleh dilanggar. Bahkan putra mahkota sendiripun dipotong kakinya karena telah berani menyentuh barang yang bukan miliknya di tempat umum.




MATARAM KUNO




Di desa Canggal (Barat Daya Magelang) ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 732, bertulisan huruf Pallawa yang digubah dalam bahasa Sanskerta. Isi utamanya menceritakan tentang didirikannya sebuah Lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit Kunjarakunja pada sebuah pulau yang mulia bernama Yawadwipa yang kaya raya akan hasil bumi khususnya padi dan emas oleh Raja Sanjaya, .


Mendirikan Lingga secara khusus adalah menunjukkan bahwa telah didirikannya sebuah Kerajaan. Yang bertempat di wilayah Gunung Wukir, Desa Canggal. Di sekitarnya juga diketemukan sisa-sisa sebuah Candi Induk dengan 3 (tiga) Candi Perwara di depannya. Sayangnya, bangunan yang tersisa sudah hancur dan menyisakan peninggalan sedikit sekali, dan Lingga-nya pun sudah tidak ada, kecuali hanya pondasinya, yaitu sebuah Yoni besar, sebagaimana candinya pun juga sudah tidak berwujud lagi.


Jawadwipa mula-mula diperintah oleh Raja Sanna, yang bijaksana dan berbudi halus dalam waktu yang cukup lama. Lalu setelah Raja Sanna wafat, digantikan oleh Sanjaya, anak Sannaha (saudara perempuan Raja Sanna). Raja Sanjaya ahli dalam Kitab-Kitab Suci dan Keprajuritan, sehingga menciptakan ketenteraman dan kemakmuran yang dapat dinikmati rakyatnya.




Dari Prasasti-Prasasti yang ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno dapat diketahui kebesaran Raja Sanjaya hingga sekitar abad X.

Teori Masuknya Agama Hindu dan Budha Ke Indonesia

         


Hipotesis-hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuk dan berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.

1. Teori Kolonisasi

Teori ini menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Berdasarkan teori ini, orang Indonesia sendiri sangat pasif, artinya mereka hanya menjadi objek penerima pengaruh kebudayaan India tersebut. Teori kolonisasi ini terbagi dalam beberapa hipotesis, yaitu sebagai berikut.



a. Hipotesis Waisya

Menurut NJ. Krom, proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanya hubungan perdagangan, orang-orang India yang datang ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang. Perdagangan yang terjadi pada saat itu menggunakan jalur laut bergantung pada angin musim. Hal ini mengakibatkan dalam proses tersebut, para pedagang India harus menetap dalam kurun waktu tertentu sampai datangnya angin musim yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Selama mereka menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Mulai dari sini pengaruh kebudayaan India menyebar dan menyerap dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pendapat Krom tersebut didasarkan penelaahan dia pada proses Islamisasi di Indonesia yang dilakukan oleh para pedagang Gujarat. Bukan hal yang mustahil, proses masuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan dengan cara yang sama.
Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana.

Namun bila menilik peninggalan prasasti yang dikeluarkan oleh negara-negara kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa. Dengan demikian, timbul pertanyaan: Mungkinkah para pedagang India mampu membawa pengaruh kebudayaan yang sangat tinggi ke Indonesia, sedangkan di daerahnya sendiri kebudayaan tersebut hanya milik kaum Brahmana?
Selain itu, terdapat kelemahan lain dalam hipotesis ini yaitu dengan melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia yang lebih banyak berada di pedalaman. Namun apabila pengaruh tersebut dibawa oleh para pedagang India, tentunya pusat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha akan lebih banyak berada di daerah pesisir pantai.


b. Hipotesis Ksatria

Ada tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dilakukan oleh golongan ksatria, yaitu sebagai berikut.

1) C.C Berg
C.C. Berg mengemukakan bahwa golongan yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah para petualang yang sebagian besar berasal dari golongan Ksatria. Para Ksatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para Ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinannya ini memudahkan bagi para Kesatrian untuk menyebarkan tradisi Hindu Buddha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Berkembanglah tradisi Hindu-Buddha dalam masyarakat Indonesia.

2) Mookerji
Dia mengatakan bahwa golongan Ksatria (tentara) dari India yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Para Ksatria ini kemudian membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan. Para koloni ini kemudian mengadakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di India dan mendatangkan para seniman yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.

 3) J.L Moens
Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Perlu diketahui bahwa sekitar abad ke-5, banyak kerajaan-kerajaan di India Selatan yang mengalami kehancuran. Ada di antara para keluarga kerajaan tersebut, yaitu para Ksatrianya yang melarikan diri ke Indonesia. Mereka ini selanjutnya mendirikan kerajaan di kepulauan Nusantara.
Kekuatan hipotesis Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para Ksatria (keluarga kerajaan).

Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg, Moens, dan Mookerji yang menekankan pada peran para Ksatria India dalam proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia terletak pada hal-hal sebagai berikut, yaitu:

1) Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa;

2) Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan¬kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.


c. Hipotesis Brahmana

Hipotesis ini menyatakan bahwa tradisi India yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana. Pendapat ini dikemukan oleh JC.Van Leur. Berdasarkan pada pengamatannya terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan¬kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasasti¬prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, maka sangat jelas itu adalah pengaruh Brahmana.

Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kaum Brahmanalah yang menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantas jika mereka yang memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke Indonesia yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini menjadi kelemahan hipotesis ini.


2. Teori Arus Balik

Pendapat yang dikemukakan tersebut di atas mendapat kritikan dari F.D.K Bosch. Adapun kritikan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut.



a. Berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang ada, ternyata teori kolonisasi tidak mempunyai bukti yang kuat. Untuk hipotesa Waisya, tidak terbukti bahwa kerajaan awal di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha ditemukan di pesisir pantai, melainkan terletak di pedalaman. Kritikan untuk hipotesa Ksatria, ternyata tidak ada jaya prasasti yang menyatakan daerah atau kerajaan yang ada di Indonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh para Ksatria dari India.

b. Bila ada perkawinan antara golongan Ksatria dengan putri pribumi dari Indonesia, seharusnya ada keturunan dari mereka yang ditemukan di Indonesia. Pada kenyataannya, hal itu tidak ditemukan.

c. Dilihat dari hasil karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara candi-candi yang dibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun di India.

d. Kritikan yang lain adalah dilihat dari sudut bahasa. Bahasa Sanskerta hanya dikuasai oleh para Brahmana, tetapi kenapa bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada waktu itu adalah bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang India.

Selanjutnya, F.D.K Bosch punya pendapat lain. Teori yang dikemukakan oleh Bosch ini dikenal dengan teori Arus Balik. Menurut teori ini, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Bukti-bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan. Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

Jawadwipa dan Ajisaka




Berikut kutipan kisah silam Jawadwipa yang terkandung dalam karya Pujangga dan Prasasti:

             Bait 1

Di Tenggara benua Asia, dalam kelompok kepulauan Nusantara Jawadwipa terletak anggun dan perkasa merekah gagah, pancarkan seni budaya pahlawan masa dan ksatria budi luhur Pantai Utaranya terima deburan ombak laut Jawa Selat Sunda memisahkannya dan bumi Swarnadwipa di sebelah Barat di sebelah Timur berbaris memanjang Kepulauan Nusa Tenggara dan ombak laut Selatan,

Samudra Indonesia, ramaikan Jawadwipa Tegak menjulang barisan pegunungan di bagian tengah pulau Gunung-gunung Gede, Pangrango, Slamet, Merapi, Merbabu, Dieng, Bromo, Kelud dan Semeru menjangkau  awan putih, sinarkan wahyu semangat Dari sana mata air alirkan sungai-sungai Citarum, Ciliwung, Bengawan Solo dan Kali Brantas. Hidupkan lembah-lembah hijau Jawadwipa.



Di kala mentari pagi beranjangsana ke atas dunia Tampak air kali coklat berbuih mengalir tenang, suburkan petak-petak sawah kuning padi merunduk melambai tertiup angin hijau segar nampak hutan-hutannya. Tatkala gelap malam naungi bumi Jawadwipasinar perak rembulan memancar di atasnya lalu terdengar seruan jangkrik mendesing bertingkahan dengan paduan suara katak nan riuh rendah Sungguh indah sang putri Nusantara, Jawadwipa Dan amatlah tua sejarahnya.

Bait 2

Ratusan ribu tahun yang silam manusia Jawa hidup di dataran rendah pulau ia dikenal dengan nama kera yang berdiri tegak atau Pithecantropus Erectus Mojokertoensis berkelompok mereka hidup, berkembang biak dan berburu bersaingan dengan binatang-binatang hutan Lalu ribuan tahun yang telah silam sebelum Kristus lahir, sebelum ada Tarikh Saka dari tanah Utara, di sekitar Cina Selatan, Yunnan dan Tonkin nenek moyang bangsa Melayu tiba dengan ratusan perahu ke Nusantara sebagian tinggal menetap sebagian berlayar terus ke Philipina, Madagaskar Irian dan pulau-pulau Polynesia Desa-desa terbentuk dengan wilayahnya tempat masyarakat, yang bersifat kerakyatan, menetap Alat-alat senjata dari perunggu dan besi serta kepandaian tanah liat, menganyam dan menanam padi memulai kebudayaan di Jawadwipa



                                 MISTERI KABUT CARINGIN KURUNG


Buku Babad Misteri Kabut Caringin Kurung I, ditulis oleh Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari, antara lain menyebutkan :

1.  Bahwa sudah ada kehidupan manusia di Bragananta (Jawa, Indonesia) semenjak 1 juta tahun sebelum Tarikh Saka. manusia tersebut mirip kera, akan tetapi makanannya bukan hanya buah-buahanan tapi juga daging dari hasil buruan. mereka hidup berkelompok dan sangat buas.
Mereka disebut manusia Buncang. Manusia Buncang tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tinggal diatas pohon-pohon yang tinggi sebagai tempat tinggal (rumah). Mereka berjalan menggunakan kedua kaki dan tangannya. Kelompok ini dinamakan Kuyang, dan kelompok kedua tinggal di dalam goa-goa dan dikenal dengan nama Gubang. Kelompok ini berjalan jinjit. Kedua kelompok manusia purba Buncang ini tidak akur.

2.  Sekitar 100.000 tahun sebelum Tarikh Saka ada manusia hidup di pulau Jawa yang disebut manusia Yaksa (apakah manusia Yaksa hasil dari evolusi manusia Buncang?). Secara fisik, manusia Yaksa ini terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama berjalan tegak dengan tinggi badan kurang lebih seperti manusia sekarang, sekujur badannya ditumbuhi bulu dengan bercak-bercak putih disekujur badannya. Golongan ini tinggal di daerah Jawa Barat. Sedang golongan yang kedua berjalan bungkuk dengan tinggi badan lebih pendek (cebol), sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu dengan warna kulit hitam. Golongan ini tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.


3.  Sekitar 40.000 tahun sebelum Tarikh Saka, terjadi bencana alam besar, dimana terjadi kemarau yang sangat panjang. hal ini mengakibatkan tumbuh-tumbuhan dan binatang banyak yang mati. Begitupun halnya dengan manusia Yaksa, banyak dari mereka yang meninggal karena kelaparan dan saling memakan antar mereka (kanibal) untuk mempertahankan hidup. ditambah lagi dengan pembantaian oleh kaum pendatang Cina terhadap manusia Yaksa selaku manusia pribumi. Pembantaian oleh kaum pendatang Cina ini dipicu oleh keganasan dari manusia Yaksa yang memang sedang kelaparan akibat kemarau panjang. Saat itu manusia Yaksa baru mengenal peradaban batu dan berburu. sedang kaum pendatang Cina sudah mengenal peradaban logam dan bercocok tanam. Sehingga pada saat terjadi perang, maka sudah dipastikan manusia Yaksa mengalami kekalahan. Disamping kalah teknologi, manusia Yaksa juga kalah jumlah (jumlah manusia Yaksa menyusut drastis semenjak bencana alam). Bahkan manusia Yaksa yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur hampir punah. Sisa-sisa dari mereka, lari ke Jawa Barat dan melakukan perkawinan dengan manusia Yaksa Jawa Barat.

4. Sekitar 10.000 tahun sebelum Tarikh Saka, keturunan dari hasil perkawinan manusia Yaksa Jawa Tengah dan Jawa Barat telah membuat sebuah komunitas baru yang hidup di pegunungan di Jawa Barat. Mereka tersisihkan oleh kaum pendatang dari Cina dan India.



5.  Sekitar awal abad Tarikh Saka (400-an sebelum Tarikh Saka), terjadi kematian misterius sejumlah kepala suku serta kepala keluarga dari kaum pendatang. Hal ini tentu saja menggemparkan kaum pendatang. karena kaum pendatang tidak memiliki pemimpin dan sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak, maka kaum pribumi (manusia Yaksa) mengambil alih kampong-kampong kaum pendatang. dan semenjak itulah di deklarasikan sebuah Kerajaan yang dinamakan Kerajaan Caringin Kurung.
Di bawah kepemimpinan Raja Caringin Kurung I ini mulai terjadi asimilasi budaya dan perkawinan antara kaum pribumi (manusia Yaksa) dengan kaum pendatang. Kerajaan Caringin Kurung ini berkembang pesat karena rakyatnya makmur sejahtera dengan wilayah yang subur. Hal ini mengundang lebih banyak lagi kaum pendatang yang ingin berdagang atau hijrah ke Kerajaan Caringin Kurung. kaum pendatang ini berasal dari daerah Barat (India) dan Utara (Cina).

6.  Kerajaan Caringin Kurung berdiri selama 6 abad (abad 4 SM – 2M), dari Raja Caringin Kurung I – Raja Caringin Kurung XIII.

7.   Perhitungan Tarikh Saka ditemukan oleh Raja Caringin Kurung XI

8.   Raja-Raja Caringin Kurung menganut kepercayaan Animisme, keyakinan terhadap alam makrokosmos dan mikrokosmos yang dilandasi oleh semangat kebenaran.
  
9.  Bahasa yang digunakan oleh rakyat Caringin kurung adalah bahasa Karan (nantinya akan bercampur dengan bahasa Sansekerta) dan huruf yang dipakai adalah aksara Darung (nantinya akan bercampur dengan huruf Palawa).

10.  Luas wilayah kerajaan Caringin Kurung meliputi ASEAN sekarang ini.

11. Raja Purnawarman (Tarumanagara) adalah keturunan Raja Caringin Kurung XIII. Raja Mulawarman (Kutai atau Lunggai) adalah keturunan Raja Caringin Kurung IV.


(Sumber: Babad Misteri Kabut Caringin Kurung I, oleh: Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)




                                                           AJISAKA 


Aji Saka adalah legenda Jawa yang mengisahkan tentang kedatangan peradaban ke tanah Jawa, dibawa oleh seorang raja bernama Aji Saka. Kisah ini juga menceritakan mengenai mitos asal-usul Aksara Jawa.

Asal mula

Disebutkan Aji Saka berasal dari Bumi Majeti. Bumi Majeti sendiri adalah negeri antah-berantah mitologis, akan tetapi ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka). Legenda ini melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa saka atau soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".

Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa dengan mengalahkan raja raksasa jahat yang menguasai pulau ini. Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa. Kerajaan Medang Kamulan mungkin merupakan kerajaan pendahulu atau dikaitkan dengan Kerajaan Medang dalam catatan sejarah.



Membawa peradaban ke Jawa

Kerajaan yang pertama berdiri di pulau ini adalah Medang Kamulan, dipimpin oleh raja raksasa bernama Prabu Dewata Cengkar, raja raksasa yang lalim yang punya kebiasaan memakan manusia dan rakyatnya. Pada suatu hari datanglah seorang pemuda bijaksana bernama Aji Saka yang berniat melawan kelaliman Prabu Dewata Cengkar.

Aji Saka berasal Bumi Majeti. Suatu hari menjelang keberangkatannya ia memberi amanat kepada kedua abdinya yang bernama Dora dan Sembodo, bahwa ia akan berangkat ke Jawa. Ia berpesan bahwa saat ia pergi mereka berdua harus menjaga pusaka milik Aji Saka. Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Setelah tiba di Jawa, Aji Saka menuju ke pedalaman tempat ibu kota Kerajaan Medang Kamulan. Ia kemudian menantang Dewata Cengkar bertarung. Setelah pertarungan yang sengit, Aji Saka akhirnya berhasil mendorong Prabu Dewata Cengkar ke laut Selatan (Samudra Hindia). Maka Aji Saka naik takhta sebagai raja Medang Kamulan.

Asal mula aksara Jawa

Sementara setelah Aji Saka memerintah di Medang Kamulan, Aji Saka mengirim utusan pulang ke rumahnya di Bumi Majeti untuk mengabarkan kepada abdinya yang setia Dora and Sembodo, untuk mengantarkan pusakanya ke Jawa. Utusan itu bertemu Dora dan mengabarkan pesan Aji Saka. Maka Dora pun mendatangi Sembodo untuk memberitahukan perintah Aji Saka.

Sembodo menolak memberikan pusaka itu karena ia ingat pesan Aji Saka: tidak ada seorangpun kecuali Aji Saka sendiri yang boleh mengambil pusaka itu. Dora dan Sembodo saling mencurigai bahwa masing-masing pihak ingin mencuri pusaka tersebut. Alhirnya mereka bertarung, dan karena kedigjayaan keduanya sama maka mereka sama-sama mati.

Aji Saka heran mengapa pusaka itu setelah sekian lama belum datang juga, maka ia pun pulang ke Bumi Majeti. Aji saka terkejut menemukan mayat kedua abdi setianya dan akhirnya menyadari kesalahpahaman antara keduanya berujung kepada tragedi ini.


Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya maka Aji Saka menciptakan sebuah puisi yang jika dibaca menjadi Aksara Jawa hanacaraka. Susunan alfabet aksara Jawa menjadi puisi sekaligus pangram sempurna, yang diterjemahkan sebagai berikut:

Hana caraka: Ada dua utusan
Data sawala: Yang saling berselisih
Padha jayanya: (Mereka) sama jayanya (dalam perkelahian)
Maga bathanga: Inilah mayat (mereka).